Dakwah Melalui BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT)

Artikel terkait : Dakwah Melalui BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT)

Dakwah Melalui BMT (BAITUL MAAL WAT TAMWIL)*

Oleh Ruswanto
Dakwah Melalui BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT)
Pada hari sabtu tanggal 14 Mei 2016 telah diselenggarakan Seminar Internasional Lembaga Keuangan Mikro Islam dalam Pengentasan Kemiskinan di Negara – Negara OKI (Organisasi Konfersensi Islam) di Kampus IPB Dramaga Bogor Jawa Barat. Menurut sumber dari www. Republika.co.id BMT dianggap bisa menjadi referensi negara OKI dalam mengembangkan ekonomi mikro syariah. Apalagi keberhasilan yang telah diperoleh ini dinilai memiliki potensi mengurangi kemiskinan di masyarakat. Dan Irfan Syauqi Beik penanggung jawab seminar tersebut menyebut BMT sebagai praktik terbaik dari pengelolaan Keuangan Syariah , informasi tentang BMT ini sangat dibutuhkan oleh negara-negara OKI lainnya.

Gerakan BMT telah mengharumkan bangsa Indonesia di dunia Internasional sebagaimana Musa Lao Ode Abu Hanafi nama bocah Indonesia berusia tujuh tahun yang menjadi juara ke-3 dalam musabaqah Hifdhil Quran Internasional di Sharm El-Sheikh Mesir, dan sebagai kontestan termuda kategori 30 Juz untuk anak-anak karena kontenstan lainnya berusia lebih dari 10 tahun.

Bagi para pegiat BMT tentu apa yang dibicarakan dalam seminar Internasional tersebut memberikan motivasi tersendiri bahwa apa yang diperjuangkannya selama ini yang tidak diniatkan untuk sekedar karir pribadi, ataupun  polularitas , namun lebih berorientasi dakwah bilhal telah mendapatkan pengakuan ataupun penghargaan dari dunia internasional.

Mengenal BMT

Dalam kesempatan ini kami mencoba mengenalkan BMT yang merupakan singkatan dari Baitul Maal WatTamwil lebih lanjut dan apa sebenarnya yang telah dicapainya. BMT atau lembaga semacam BMT telah dirintis tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Keberadaan BMT saat itu belum banyak dikenal masyarakat, baru setelah didorong oleh beberapa lembaga seperti Pusat Inkubasi Bisnis usaha Kecil (PINBUK) yang didirikan oleh Ketua Umum MUI, Ketua Umum ICMI dan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, Dompet Dhuafa (DD) Republika , dan juga oleh Yayasan Baitul Maal Muhammadiyah (YBMM) yang mendorong didirikan Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), BMT dan BTM mulai tumbuh di berbagai daerah dan sedikit demi sedikit mulai dikenal oleh masyarakat.

BMT sebagai Baitul Maal dan Baitut Tamwi melaksanakan dua kegiatan. Sebagai Baitul Maal , BMT menerima dana zakat, infaq, shadaqah dan wakaf serta menyalurkan (tasaruf)  sesuai dengan ketentuan syariahnya . Sedangkan sebagai Baitut tamwil BMT mendorong pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas usaha pengusaha mikro dan kecil dengan mendorong kegiatan menabung dan pembiayaan ekonomi dengan prinsip – prinsip syariah. 

Para aktivis muda islam yang terdiri dari aktivis kemasyarakatan dan aktivis kampus yang memiliki ghirah (semangat) yang sangat tinggi untuk beraktualisasi, menyambut gerakan BMT dengan sangat antusias. Di berbagai daerah gerakan BMT dimotori oleh aktivis muda islam yang sebenarnya masih sangat minim kompetensi dan pengetahuannya tentang keuangan mikro islam. Kesadaran akan  pentingnya dakwah bilhal melalui keuangan mikro islam  , mendorong para aktivis muda islam menggalang dukungan untuk merintis pendirian lembaga BMT ini. Semangat untuk terus mau belajar dan merubah diri menjadi lebih baik merupakan energi  sangat besar yang mendorong BMT terus tumbuh dan berkembang  seperti saat sekarang ini secara mandiri. 

Jati Diri BMT sebagai Lembaga Dakwah

Semangat dakwahlah yang sebenarnya menjadi ruh perjuangan para pegiat BMT, sehingga Perhimpunan BMT Indonesia (PBMTI) yang merupakan salah satu wadah tempat berhimpunnya BMT – BMT dengan para pegiatnya , menegaskan bahwa jati diri BMT adalah lembaga dakwah. Awalil Rizki dalam  Haluan BMT tahun 2020 menyebutkan bahwa secara historis, pendirian dan perkembangan gerakan BMT selalu berkaitan dengan nilai-nilai Islam dan respon atas kondisi umat islam. Para pegiat BMT pun selalu berupaya mengedepankan berbagai identitas keislaman dalam operasionalisasi, termasuk dalam proses dan kinerja sebagai badan usaha yang melaksanakan prinsip-prinsip syariah. Jati diri BMT harus dicerminkan dalam keseluruhan pelaku, proses dan kinerja BMT. Menjadi karakteristik dalam aktivitas BMT sebagai perusahaan atau pelaku ekonomi. Menjiwai sikap dan perilaku para pegiatnya sebagai individu maupun makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari. Berpengaruh besar pada pola hubungan dengan dan antar anggota BMT. Bahkan menginspirasi para pelaku ekonomi lainnya, sehingga pada giliran berikutnya memberi kontribusi bagi terwujudnya masyarakat ekonomi produktif yang diridhoi Allah SWT.

Jati diri itu diimplementasikan ke dalam beberapa ciri pokok atau identitas utama dari BMT, sehingga tercermin pada masing-masingnya secara jelas. Pertama, sebagai lembaga berdasar syariah, yang aktivitas seluruhnya tunduk kepada prinsip-prinsip dan aturan main syariah. Kedua, sebagai Lembaga Keuangan Mikro yang menjadi motor penggerak sektor usaha mikro dan kecil, dengan fokus penyaluran pembiayaan kepada sektor usaha mikro kecil yang merupakan tumpuan hidup dari mayoritas rakyat Indonesia, maka diharapkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan menjadi meningkat. Ketiga, sebagai Lembaga maal yang terkait  dengan fungsi Maal dalam aktivitas BMT. Fungsi Maal adalah sebagai salah satu alat pemberdayaan kaum miskin dengan skema-skema tertentu yang tak berdasar perhitungan bisnis dan keuangan. Keempat sebagai koperasi Indonesia  yang diharapkan menjadi salah satu pilar/ saka guru perekonomian nasional.

Peran strategis BMT dalam berdakwah sangat disadari oleh para pegiat BMT dalam rangka mewujudkan masyarakat utama yang diridhoi Allah SWT. Hal ini dilakukan dengan membentuk keluarga-keluarga utama yang sejahtera lahir dan batinnya , mulai dari keluarga pengurus dan pengelola/karyawan dan berlanjut  mendorong anggota / mitra BMT juga menjadi keluarga – keluarga utama. BMT melalui lembaga Baitul Maal dan Baitut Tamwilnya melakukan intermediasi dari orang yang ingin menyimpan atau menginvestasikan dananya kepada orang yang yang membutuhkan dana untuk membiayai usaha produktifnya, dari orang yang ingin menyalurkan dana zakat, infaq, shodaqah, wakaf kepada orang-orang yang berhak menerimanya / mendayagunakannya, dan dari orang yang memiliki ilmu kepada orang – orang yang membutuhkannya. Dengan upaya intermediasi ini diharapkan akan meningkat kualitas hidup keluarga-keluarga yang tergabung dalam komunitas BMT sehingga terwujud indikator-indikator kesejahteraan keluarga utama :
  1. Meningkat kualitas keislamannya : semakin paham dengan ajaran islam, semakin kokoh dan lurus akidahnya, semakin rajin menjalankan ibadah dengan benar, semakin baik akhlaqnya dan terhindar dari transaksi muamalah yang dilarang oleh ajaran islam 
  2. Meningkat kesejahteraan ekonominya : mampu mencukupi kebutuhan dasarnnya seperti pangan , sandang dan papan serta kebutuhan lainnya seperti kesehatan, pendidikan serta kemasyarakatan dan ibadahnya

Pencapaian BMT

Ribuan BMT dengan aset puluhan  Triliun saat ini sudah berdiri di Indonesia. Jutaan masyarakat sudah terlayani oleh BMT dengan  puluhan ribu karyawannya. Secara umum BMT mulai memiliki peran riil dalam mendampingi usaha mikro kecil di Indonesia. Tentu ada hal – hal spesifik yang perlu dicatat sebagai capaian BMT :
  1. Sebelum BMT berdiri , banyak masyarakat mikro yang dianggap tidak memiliki kemampuan menabung. Tidak banyak atau bahkan tidak ada Lembaga Keuangan yang membuka jasa layanan yang cocok untuk masyarakat mikro , dengan biaya administrasi yang cukup tinggi akan menggerus simpanan masyarakat karena bunga yang diperoleh dari simpanan lebih kecil dari biaya administrasinya. Masyarakat mikro lebih suka menabung uangnya di rumah atau diwujudkan dalam bentuk barang seperti emas/perhiasan, ternak, atau yang lebih besar dalam bentuk tanah dll. Dan biasanya akan mudah tergoda untuk digunakan mencukupi kebutuhan-kebutuhan konsumtifnya dan juga tidak nyaman dari segi keamanannya. Kehadiran BMT ternyata menumbuhkan karakter suka menabung , sehingga masyarakat mengalihkan kebiasaan menabungnya dengan menyimpan dananya di BMT yang rata – rata tidak dibebani biaya administrasi, sehingga simpanan masyarakat yang relatif kecil tetap utuh atau bahkan bertambah dengan adanya bagi hasil. Kebiasaan menabung ini sangat membantu masyarakat dalam pengembangan ekonomi keluarga atau usahanya. Jadi BMT telah menjadi institusi yang cocok untuk menjadi tempat menyimpan dana masyarakat mikro.
  2. Sebelum BMT berkembang, masyarakat mikro khususnya pedagang pasar tradisional banyak yang terjerat rentenir dengan bunga yang sangat tinggi . BMT – BMT banyak yang pada awal berdirinya menjadikan pedagang pasar sebagai sasaran utamanya . Dengan produk Hiwalahnya (produk pengalihan hutang) , BMT mengalihkan hutang pedagang pasar dari rentenir ke BMT sehingga pedagang pasar merasa sangat tertolong dengan kehadiran BMT di pasar-pasar tradisional.
  3.  Para pengelola BMT yang hadir di tengah-tengah masyarakat mikro yang tidak sekedar melakukan hubungan transaksional lembaga keuangan, namun melakukan interaksi yang lebih bermakna silaturahim ternyata telah memberikan manfaat yang sangat banyak untuk pengembangan pengetahuan, kapasitas dan manajemen pengelolaan usaha . Sehingga interaksi ini ternyata menjadi media pemberdayaan yang efektif bagi masyarakat mikro.
  4.  Perkembangan transaksi bisnis modern yang berbasis ribawi telah menggusur praktek bisnis di masyarakat yang tidak sedikit yang berbasis transaksi syariah seperti budaya berbagi hasil, budaya qardhul hasan, budaya jual beli, ijaroh  dll. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sangat minim pemahamannya tentang fiqih muamalah sehingga tidak bisa memfilter transaksi bisnis modern yang berbasis ribawi. Sementara para ulama dan para da”i juga sangat sedikit yang konsentrasi mendalami fiqih muamalah dan mensosialisasikan kepada umat islam. Pemahaman agama lebih banyak pada aspek akidah, ibadah dan akhlaq. Kehadiran BMT memberikan kesadaran bahwa fiqih muamalah tidak kalah pentingnya dengan akidah, ibadah dan akhlaq. Edukasi syariah dari aspek muamalah ini mulai menjadi perhatian masyarakat , meskipun masih sangat minim dan belum optimal, sehingga bergabungnya masyarakat ke BMT yang menjadi faktor utama bukan dari aspek syariah namun masih dari aspek kemanfaatan yang lain.
  5. Baitul Maal juga menjadi sarana yang efektif untuk membangun kepedulian masyarakat atas keadaan sesama. Pentashorufan Baitul Maal dengan program-program yang terencana telah menarik para muhsinin untuk ikut berpartisipasi menyalurkan dana zakat, infaq, shodaqah, dan wakafnya melalui program-program yang dicanangkan Baitul Maal. Baitul Maal ini juga menjadi media efektif untuk membiayai para mustahik mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan serta untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan dll yang tidak terlayani oleh Baitut Tamwil dengan persyaratan yang tidak bisa dipenuhi oleh mustahik.
Dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas  pegiat BMT dan dukungan dari para pemangku kepentingan, pemangku kebijakan, masyarakat khususnya umat islam , insya Allah BMT bisa menjadi lembaga dakwah yang efektif memberikan kontribusi mewujudkan masyarakat utama yang diridhoi Allah SWT.
*Artikel Ini Untuk Majalah Bamada 

Artikel Baitul Maal Ahmad Dahlan Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2017 Baitul Maal Ahmad Dahlan - All Right Reserved | Edited By AAN