Cara Mengatur Keuangan Dalam Islam

Artikel terkait : Cara Mengatur Keuangan Dalam Islam


 

Islam merupakan ajaran yang menyeluruh dalam mengatur kehidupan. Termasuk dalam mengatur keuangan.

Ajaran tentang mengatur keuangan ini tercantum dalam hadist dan Al-Quran. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 26 dan 27, yang artinya;

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”

Lalu bagaimanakah cara mengatur keuangan dalam Islam? berikut 5 hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur keuangan

Menabung

Menyisihkan sebagian harta atau menabung adalah perlu, anjuran menabung ini diriwayatkan Rasulullah melalui hadist Bukhari.

 “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (H.R Bukhari)

Kita, umat manusia hanya bisa berencana, sementara Allah yang menentukan. Maka dari itu, menabung menjadi perlu. Sebab kita tak akan tahu apa yang akan terjadi di hari esok.

Berinfak

Berinfak sedekah adalah perlu. Hal ini akan membawa banyak kebaikan pada pelakunya. Anjuran ini difirmankan Allah dalam Al-Quran

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rejeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi”. (QS 35:29)

Rumus 3 Bagian

Rumus 3 bagian merupakan rumus mengatur keuangan dari Sahabat Nabi, Salman Al Farisi. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki uang sebanyak 1 dirham untuk digunakan sebagai modal membuat anyaman yang dijual seharga 3 dirham. Kemudian, pendapatannya tadi dibagi menjadi: 1 dirham untuk keperluan keluarganya, 1 dirham untuk sedekah dan sisanya 1 dirham untuk digunakan sebagai modal kembali.

Tidak Boros

Selain menabung, umat Islam hendaknya tidak bersikap boros terhadap harta. Sebab, Allah dalam surat Al-Furqon berfirman, hendaknya manusia jangan boros, tetapi juga tak boleh kikir.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon :67)

Hal ini juga sesuai pesan Nabi Shalallahu’alaihiwassalam, termasuk juga dalam bersedekah.

Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka) berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan (israf) dan tanpa kesombongan”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dan Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan secara ta’liq).

Berhutang

Hutang bisa menjadi alternatif penyelamat keuangan di kala kondisi darurat. Namun, hal ini diatur dalam islam : tidak dianjurkan berhutang kecuali memang membutuhkan, mencatatnya, menghindari riba dan tidak menunda pembayaran.

Dari Abu hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah SWT akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa yang mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (HR Bukhari)

Juga pesan Rasulullah dalam keterangan yang lain “Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman.” (HR Bukhari).

pdlssm





Artikel Baitul Maal Ahmad Dahlan Lainnya :

0 comments:

Post a comment

Copyright © 2017 Baitul Maal Ahmad Dahlan - All Right Reserved | Edited By AAN