Bertahan di Masa Pandemi Covid -19

Artikel terkait : Bertahan di Masa Pandemi Covid -19


oleh: Ruswanto STP, Manajer BMT Ahmad Dahlan

Kita Generasi yang Terpilih untuk Menjalani Kehidupan di Masa Pandemi

Setiap generasi mengalami episode kehidupan yang berbeda. Kita bersama masyarakat dunia saat ini sedang mengalami kehidupan di masa pandemi Covid-19 . Banyak perubahan yang terjadi di masa pandemi. Dulu saat menjelang hari Raya idul Fitri kita bersiap-siap menyambut kedatangan saudara-saudara kita yang merantau untuk pulang kampung “mudik” . Toko, warung makan, pedagang pasar bersiap-siap omsetnya naik beberapa kali lipat dengan adanya peristiwa mudik ini, namun sudah dua kali hari raya Idul Fitri dua tahun ini hal itu tidak terjadi. Berita-berita kemacetan saat arus mudikpun tidak terdengar lagi. Interaksi sosial dan kegiatan kemasyarakatpun dibatasi. Beribadah , bersekolah, olah raga, hajatan dan lain-lain tidak lagi bebas, semua serba dibatasi. Pandemi memaksa kita untuk menjalani kehidupan dengan kebiasaan kebiasaan yang baru. Tidak setiap generasi mengalami keadaan ini, kitalah yang terpilih untuk menghadapi keadaan pandemi ini. Dan kita yakin  insyaAllah kita mampu menghadapinya . Kita renungkan potongan Ayat AlQur’an surat Al Baqarah ayat 286 ini

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya


Meluruskan Sudut Pandang

Banyak pemikiran dan pandangan yang bisa kita simak, apalagi di media sosial mensikapi pandemi ini.Tentu beragamnya pandangan itu berangkat dari sudut pandang yang beragam pula. Ada yang dengan pendekatan sudut pandang ilmu pengetahuan, ada yang dengan sudut pandang keimanan dan ilmu keagamaan, ada yang dengan sudut pandang keyakinan yang sumbernya tidak jelas dll. Pro kontra terjadi dan menjadikan masyarakat menjadi terombang-ambing dan ada kebingungan masyarakat untuk mensikapi pandemi ini. Maka sebagai insan yang beriman dan bertaqwa tentu kita akan menjadikan sudut pandang keimanan dan ilmu keagamaan sebagai referensi utama dengan tidak mengabaikan ilmu pengetahuan yang merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia yakni berupa kemampuan untuk memahami ketentuan –ketentuan Allah atas alam ini dan memanfaatkannya untuk mengolah alam ini untuk kepentingan manusia.


Kembali kepada Seruan para Nabi dan Rasul untuk mentauhidkan Allah

Ketika peradaban manusia pada suatu masa mulai melupakan  Allah sehingga manusia menjadi lupa akan jati dirinya sebagai makhluq yang diciptakan  Allah, sebagai Abdulah hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk beribadah dan menghambakan diri hanya kepada Allah, sebagai Khalifatullah yang bertugas membuat perbaikan di muka bumi ini dan bukan membuat kerusakan, maka Allah menurunkan nabi dan rasul Nya untuk menyeru manusia kembali kepada Allah, mentauhidkan Allah dan memenuhi kewajibanya sebagai makhluq, hamba , dan khalifah Nya. Sebagai umat akhir zaman yang sudah diturunkan nabi dan rasul yang terakhir yakni rasulullah Muhammad SAW maka tugas kita adalah mengikuti petunjuk Allah yang dibawa oleh  rasul terakhir.

Rasulullah SAW bersabda : Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku”. (HR al-Hakim)

Apapun ujian yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia ini maka kita harus senantiasa berpegang pada Kitab suci AL Qur’an dan Sunnah rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam, agar kita tetap berada di jalan yang lurus dan tidak tersesat. Pandemi Covid merupakan tanda tanda kebesaran Allah, bagi orang beriman pandemi ini adalah ujian dan peringatan agar bersabar, agar tidak sombong , dan lebih bersemangat untuk semakin mendekat kepada Allah, bersungguh-sungguh bertawakal dan mengharapkan pertolongan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita renungkan ayat Allah di dalam AlQur’an surat At Taubah ayat 51

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."


Ikhtiar untuk Bertahan di Masa Pandemi

Kita yakin sepenuhnya bahwa apa yang ada di muka bumi, di langit, di antara keduanya dan di bawah bumi adalah ciptaan Allah, milik Allah dan dalam pemeliharaan dan pengendalian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka setiap kejadian termasuk pandemi ini tidak terlepas dari kehendak Allah dan menjadi tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Bagi orang beriman setiap kejadian menjadi pelajaran yang akan semakin meningkatkan keimanannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Infeksi virus corona ini hanya akan mengena pada orang yang dikehendaki Allah dan tidak akan mengena orang yang tidak dikehendaki oleh Allah. Dari sudut pandang lain manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk mempelajari hukum – hukum tentang alam ini termasuk terkait dengan virus yang kita sebut dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya manusia merumuskan cara mengantisipasi agar tidak terinfeksi oleh virus, meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi virus dan menangani orang-orang yang terinfeksi oleh virus. Hal bijak yang perlu dilakukan adalah mengikuti rekomendasi ilmu pengetahuan untuk berikhtiar mencegah penularan virus dengan protokol kesehatan, meningkatkan imunitas/kekebalan tubuh , dan berikhtiar berobat secara medis jika terinfeksi virus dan menimbulkan gejala sakit. Namun sebagai orang yang beriman harus yakin sepenuhnya akan takdir dan kekuasaan Allah , ikhtiar berupa mendekatkan diri kepada Allah dengan senantiasa bertaubat dan memohon ampun kepada Nya, meningkatkan ketaatan menjalankan perintah Nya serta menjauhi larangan Nya , berdo’a dan mehohon perlindungan dari Nya, dan bertawakal kepada Nya merupakan ikhtiar yang semestinya dilakukan.

Dengan adanya pandemi ini juga memberikan dampak disektor-sektor kehidupan yang lain seperti perekonomian, pendidikan, sosial dll. Interaksi sosial dibatasi, sektor usaha banyak yang mengalami penurunan usaha dan pengurangan karyawan bahkan tidak sedikit yang gulung tikar, pengajian dan ibadah juga terbatasi yang bisa berdampak penurunan kualitas keimanan. Dengan kondisi seperti ini apakah kita harus menyerah dengan keadaan, memuaskan diri dengan berkeluh kesah dan menyalahkan keadaan, tentu tidak..., kita harus yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya , Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Kita diwajibkan untuk berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.


Beradaptasi dan Berinovasi

Kita harus bisa menerima keadaan pandemi ini sebagai kenyataan, sebagai takdir Allah, sebagai ujian dan peringatan Allah untuk kita. Maka kita harus bisa menerima takdir Allah ini dan tetap berhusnudzan kepada Allah, menghindari banyak berkeluh kesah , bahkan harus senantiasa bisa bersyukur kepada Allah. Bersabar atas keadaan pandemi ini membuat hati dan pikiran kita insyaAllah akan menjadi lebih tenang. Rasa optimis akan muncul dan akan menjadi kondisi yang optimal untuk munculnya gagasan-gagasan kreatif. Coba kita cermati di tengah situasi pandemi ini banyak muncul usaha-usaha kreatif . Ada orang yang kehilangan pekerjaan karena dampak dari pengurangan karyawan di perusahaan, namun dia tidak menyerah dan merintis usaha online dan hasilnya tidak kalah dari gaji dia ketika bekerja di perusahaan. Ada sektor – sektor usaha yang di saat pandemi ini justru usahanya mendapatkan momentum untuk berkembang pesat. Itu contoh di bidang ekonomi , di bidang pendidikan juga muncul inovasi-inovasi baru agar mampu beradaptasi di masa pandemi ini. Sektor – sektor yang lain saya kira juga hampir sama, kemampuan beradaptasi dan berinovasi menjadi kunci untuk bisa bertahan bahkan berkembang di masa pandemi ini. Kemampuan beradaptasi ini ditopang oleh cara pandang yang positif dan husnudzan terhadap takdir Allah. Kita renungkan ayat Allah di dalam Al Qur’an surat al-insyirah

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap

Yakinlah di balik kesulitan ada kemudahan, teruslah berbuat , berikhtiar dengan sungguh-sungguh , dan hanya kepada Allah kita berharap . Maka hidup ini kita harus senatiasa berupaya, berikhtiar dengan sungguh sungguh tidak boleh berhenti berikhtiar  sebagai bentuk pemenuhan kewajiban kita kepada Allah dan selanjutnya kita bertawakal kepada Allah yang ditangan Nyalah segala kebaikan. Allah maha berkuasa atas segala sesuatu, Allah memiliki kehendak yang kehendaknya tidak bisa dihalang-halangi  oleh siapapun. Maka kita orang beriman tidak boleh bergantung pada ikhtiar kita namun hanya kepada Allahlah semestinya kita bergantung . Jika kita diuji dengan keberhasilan/kelapangan maka kita tidak sombong , namun kita mampu untuk bersyukur dan jika sedang diuji kegagalan/kesempitan kita tidak banyak berkeluh kesah , putus asa apalagi ingkar akan ni’mat Allah, namun kita mampu bersabar dan tidak kehilangan harapan akan pertolongan Allah.

Semoga kita dengan ujian pandemi ini terpilih menjadi orang orang yang beruntung dengan semakin dekat kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan kemudahan oleh Allah untuk melalui masa pandemi ini dengan aman, mendapatkan tambahan karunia dari Allah dan bisa lebih bermanfaat untuk umat dan masyarakat. Aamiin.

Artikel Baitul Maal Ahmad Dahlan Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2017 Baitul Maal Ahmad Dahlan - All Right Reserved | Edited By AAN